Skip to main content

Mewaspadai Aksi 112

Mewaspadai Aksi 112

NEGERI ini sudah dibikin kacau oleh ormas-ormas yang mengatasnamakan agama. Mereka berusaha memaksa pemerintah tunduk kepada kemauan mereka. Berbagai aksi yang terkesan provokasi mereka lakukan. Bahkan, mereka menuduh pemerintah melindungi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Namun, Pemerintahan Jokowi-JK selalu bisa mematahkan gerakan mereka. Sebut saja aksi bela Islam 212. Pemerintah, terutama jajaran Kepolisian mampu meredam rencana "makar" dibalik aksi tersebut. Beberapa orang ditangkap dengan tuduhan makar dan ujaran kebencian kepada pemerinatahan yang sah. 

Dan dengan gagahnya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, didampingi Panglima TNI dan Menko Polhukam serta beberapa petinggi istana lainnya menemui peserta aksi. Aksi pun berjalan super damai, walau disenja harinya, terjadi kericuhan kecil.

Mereka gagal memaksa pemerintah memenjarakan Ahok atas tuduhan dugaan penistaan agama. Presiden dan Wapres hanya memerintahkan kasus itu dipercepat prosesnya. Dan saat ini dalam proses persidangan. Tujuan mereka gagal, Ahok tidak dipenjarakan. 

Berbagai cara mereka lakukan untuk menjatuhkan Ahok, tapi nyatanya Ahok sampai saat ini tetap bertahan dan tegar. Jangankan ditinggalkan warga DKI, malah saat ini Ahok mendapat simpati. Ini dibutikan dengan banyaknya warga yang hadir pada konser "Gue2".

Kondisi ini tentu membuat mereka meradang. Kebakaran jenggot, seakan jubah perlambang tanda kesucian yang mereka pakai tak dihargai. Meraka pun akan terus menyuarakan "provokasi" agar Presiden Jokowi diturunkan dari kursi kepresidenan. 

Setidaknya, ini dapat kita lihat dari berbagai ceramah agama yang mereka sampaikan, termasuk berbagai seruan di media sosial yang mereka lakukan. Bagi mereka, pemerintahan Jokowi-JK adalah pemerintahan yang dzalim terhadap umat Islam. Dan mereka yang merasa memegang "hak paten" atas umat Islam di negeri ini, terus menyuarakan kebencian kepada pemerintah. 

Tak kenal lelah, mereka terus berteriak dan berteriak, "umat Islam di negeri ini didzalimi, kita harus lawan." 

Padahal, di negeri ini kebebasan mereka beribadah tak "diharamkan." Justru yang layak berteriak didzalimi itu sebenarnya bukan mereka, tapi kelompok minoritas yang dilarang beribadah ke gereja, penganut mazhab minoritas, seperti Syiah dan Ahmadiyah yang saat ini tidak mendapatkan kebebasan menjalankan keyakinannya di negeri ini. 

Beribadah pun mereka terpaksa sembunyi-sembunyi. Mereka pun mengalami pengusiran oleh kelompok minoritas dari rumah tempat tinggal mereka. Contoh kasus adalah penganut Syiah di Sampang.

Mereka tetap tidak puas dan akan tetap merasa terzalimi. Dan akan terus berteriak kian kemari. Di dunia maya maupun di dunia nyata. 

Kali ini, mereka berencana akan melakukan aksi 112. Kata meraka aksi super damai, tapi kenapa mereka tidak mau berdamai dengan aturan yang ada di negeri ini. Padahal mereka tahu, rencana aksi yang akan mereka lakukan adalah di masa tenang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. 

Kapolda Metro Jaya, Mendagri, dan Mengko Polhukam telah menghimbau agar mereka tak melaksanakan aksi tersebut karena waktunya di minggu tenang Pilkada DKI. Tapi mereka tetat bersuara dan "berteriak" akan tetap melaksanakan aksi itu. 

Apa tujuan mereka? Menggagalkan Ahok maju dalam Pilkada? Tentu ini tidak sesuai dengan konstitusi di negeri ini. Semua anak bangsa, baik yang mengaku pribumi dan keturunan (Cina, Arab, India, dan lain sebagainya), berhak maju dalam pesta demokrasi Pilkada, Pileg, dan Pilpres. 

Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata Undang-undang, tanpa pengecualian. Apapun agama mereka, sepanjang sah diakui negara, maka mereka berhak mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah, calon Anggota DPR dan DPD, bahkan calon Presiden dan Wakil Presiden RI. 

Aksi 112 patut diwaspadai, walau mereka sudah menjamin akan terlaksana super damai. Tapi sikap mereka yang memaksa akan tetap melaksanakan aksi tersebut, walau sudah dihimbau agar diurungkan, ini menandakan ada maksud terselubung dibalik aksi tersebut. Apalagi, aksi itu dilaksanakan pada minggu tenang Pilkada DKI.

Tak hanya itu, tujuan aksi itu sendiri, jelas-jelas menyurakan keharaman memilih pemimpin "kafir" versi mereka. Dan selama ini, yang mereka tuding "kafir" itu adalah Ahok. Dari sini dapat dibaca, mereka berusaha menyakinkan warga DKI agar tak memilih Ahok yang mereka anggap kafir sebagai Gubernur DKI Jakarta. 

Tentu timbul pertanyaan, aksi ini pesanan siapa? Karena sarat kepentingan politik dan menguntungkan pasangan calon tertentu. 

Ditulis Oleh:
Ibnu Samsuddin

Comments

Popular posts from this blog

Talk Show Literasi Keuangan FIFGROUP: OJK Apresiasi Langkah untuk Optimalkan Pembiayaan Dengan Cerdas dan Bijak

SO, JAKARTA,-Industri jasa keuangan memiliki peran penting dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.  Namun, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada peran sektor keuangan itu sendiri, tetapi juga pada pemahaman dan kesiapan finansial masyarakat yang menjadi bagian penting dari ekosistem yang berjalan. Hasil dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022 menunjukkan perkembangan positif, dengan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 49,68%, meningkat signifikan dari angka 38,03% pada tahun 2019.  Meskipun terdapat peningkatan, masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai karakteristik dan peraturan berbagai produk serta layanan di sektor jasa keuangan.  Perkembangan pesat dan digitalisasi di industri keuangan telah menciptakan sistem keuangan yang semakin kompleks dan dinamis.  Oleh karena itu, upaya bersama antara pemerintah, lembaga keuangan, organisasi non...

Pelaku Bom Bandung Terkait Jaringan Purwakarta, Ini Penjelasan Polisi

SO - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan proses identifikasi terhadap tersangka teror bom Bandung, Yayat Cahdiyat, masih berjalan. Jenazah terduga pelaku bom masih ditangani tim Pusat Kedokteran dan Kesehatan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Boy menjelaskan, polisi juga terus melakukan identifikasi terduga pelaku bom melalui penelusuran di lapangan. Menurut Boy, Yayat adalah residivis atau mantan narapidana yang bebas pada 2014.  Yayat, 41 tahun, melakukan aksi teror bom pada Senin pagi, 27 Februari 2017. Dia meledakkan bom panci di Taman Pandawa, Kota Bandung. Dia kemudian tewas setelah melakukan aksinya itu. Sehari-hari Yayat dikenal dengan nama Abu Salam. Dari alamat yang tertera di kartu tanda penduduk, dia disebut tinggal di daerah Pasir Bambu, Jawa Barat. Dia juga diduga tinggal selama 6 bulan di kontrakan Desa Sirnagalih, Cianjur. Dia memiliki istri dan 3 anak. Yayat menjadi residivis kare...

Jika Menolak Minta Maaf Kepada Panitia KKR, PAS Dilarang Lakukan Kegiatan di Bandung

SO - Wali Kota Bandung, M Ridwan Kamil, menegaskan, tidak boleh ada kelompok masyarakat sipil (organisasi masyarakat) yang membatasi, merintangi, demonstrasi, atau melakukan kegaduhan terhadap kegiatan ibadah keagamaan yang sudah legal, karena melanggar KUHP pasal 175 dan 176, dengan hukuman kurungan badan maksimal 1 tahun 4 bulan. Pernyataan orang nomor satu di Kota Bandung, Jawa Barat, itu salah satu hasil rapat dan kesepakatan antara semua pemangku kepentingan terkait praktik beribadah agama, pemerintahan setempat, polisi, dan lain-lain.  Secara rinci, itu adalah pemerintah Kota Bandung dengan MUI, Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Forum Silaturahmi Ormas Islam (FSOI), Kementerian Agama Kantor Wilayah Kota Bandung, Bimas Kristen Kementerian Agama Jawa Barat, Polrestabes Bandung, dan Kejaksaan Negeri Kota Bandung, tertanggal 8 Desember 2016.  Juga hasil rapat antara pemerintah Kota Bandung dan Komnas HAM pada 9 Desember 2016, terkait permasalahan ...